Misi Apollo 12 tercatat sebagai penerbangan berawak keenam dalam program Apollo milik Amerika Serikat yang sukses mencatatkan pendaratan kedua di permukaan Bulan. Peluncuran bersejarah ini berlangsung pada 14 November 1969 dari Kennedy Space Center di Florida, membawa para astronot menuju wilayah Ocean of Storms.
Komandan Charles "Pete" Conrad bersama Lunar Module Pilot Alan L. Bean menghabiskan waktu sedikit lebih dari satu hari tujuh jam untuk menjalankan aktivitas eksplorasi di permukaan Bulan. Sementara itu, Command Module Pilot Richard F. Gordon tetap bersiaga mengorbit Bulan di dalam modul komando.
Related Stories
Pantau Pergerakan Pasar & Teknologi Terkini
Dapatkan analisis mendalam dan berita eksklusif seputar pasar saham, kripto, dan inovasi teknologi langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribePeluncuran misi ini sempat diwarnai insiden menegangkan ketika roket disambar petir sebanyak dua kali di tengah cuaca hujan sesaat setelah lepas landas. Beruntung, masalah instrumen tersebut berhasil diatasi dengan cepat setelah kru mengalihkan sistem ke catu daya cadangan.
Perjalanan luar angkasa menuju Bulan secara keseluruhan berjalan lancar tanpa hambatan berarti setelah insiden sambaran petir tersebut teratasi dengan baik oleh para kru. Mereka pun bersiap melaksanakan pendaratan presisi tinggi di target lokasi yang sudah ditentukan.
Pendaratan Presisi Dekat Wahana Surveyor 3
Keberhasilan misi ini membuktikan kapasitas teknologi luar angkasa Amerika Serikat dalam mengelola eksplorasi ilmiah secara lebih mendalam di satelit alami bumi. Seluruh rangkaian misi berakhir sukses dengan kembalinya para astronot ke bumi pada 24 November 1969.
Pencapaian Apollo 12 membuka jalan bagi pengembangan misi-misi eksplorasi lanjutan yang menuntut tingkat akurasi tinggi dalam menjangkau titik-titik pendaratan penuh kepentingan ilmiah. Pengalaman dari misi ini menjadi acuan penting bagi perkembangan teknologi penerbangan antariksa modern.
Pendaratan Apollo 12 di wilayah Bulan mencetak sejarah tersendiri karena berhasil mendarat tepat di dalam jarak jalan kaki dari lokasi wahana robotik Surveyor 3. Keberhasilan pendaratan presisi ini menunjukkan bahwa NASA mampu merencanakan misi masa depan dengan target lokasi sains yang spesifik.
Selama beraktivitas di permukaan Bulan, Conrad dan Bean membawa seperangkat instrumen ilmiah bertenaga nuklir serta kamera televisi berwarna pertama untuk misi Apollo. Sayangnya, transmisi gambar sempat terganggu setelah sensor kamera terbakar akibat tidak sengaja diarahkan ke matahari.