Chandrayaan-3 sukses mencatatkan sejarah gemilang sebagai misi luar angkasa pertama yang berhasil melakukan pendaratan lembut di wilayah kutub selatan Bulan. Keberhasilan ini menempatkan Organisasi Penelitian Luar Angkasa India atau ISRO sejajar dengan badan antariksa elit dunia lainnya yang pernah menginjakkan kaki di satelit bumi tersebut.
"Keberhasilan pendaratan Chandrayaan-3 di kutub selatan Bulan merupakan tonggak sejarah baru bagi penjelajahan antariksa global dan kebanggaan besar bagi rakyat India," ujar perwakilan ISRO dalam laporan resminya terkait misi ambisius ini.
Related Stories
Pantau Pergerakan Pasar & Teknologi Terkini
Dapatkan analisis mendalam dan berita eksklusif seputar pasar saham, kripto, dan inovasi teknologi langsung di inbox Anda. Gratis!
SubscribeMisi yang diluncurkan dari Satish Dhawan Space Centre di Sriharikota ini membawa dua komponen utama, yaitu pendarat Vikram dan penjelajah Pragyan. Kehadiran wahana tersebut dirancang khusus untuk meneliti kandungan es serta mineral berharga di permukaan Bulan yang selama ini belum terjamah.
Wilayah kutub selatan Bulan dipilih karena menyimpan potensi besar berupa cadangan es air yang dapat dimasa depan dimanfaatkan sebagai sumber oksigen serta bahan bakar penunjang misi luar angkasa berawak. Wal demikian, tantangan ekstrem berupa kawah terjal dan suhu dingin menjadi ujian berat bagi ketahanan instrumen pesawat.
Spesifikasi Canggih Pendarat Vikram dan Penjelajah Pragyan
Pendarat Vikram dibekali berbagai peningkatan teknologi canggih guna menghindari kegagalan serupa yang dialami oleh misi pendahulunya pada tahun 2019. Peningkatan tersebut mencakup sistem kendali dorongan mesin yang lebih presisi serta sensor kecepatan laser Doppler canggih.
Sementara itu, penjelajah Pragyan yang berbobot 26 kilogram bertugas mengelilingi permukaan Bulan untuk mengambil berbagai pengukuran penting terkait komposisi tanah dan atmosfer. Seluruh data ilmiah tersebut langsung dikirimkan kembali ke pusat pengendali di bumi untuk dianalisis lebih lanjut.
Meskipun menghadapi tantangan masa operasional yang terbatas akibat ketiadaan unit pemanas radioisotop, misi ini tetap berjalan sukses melampaui target awal operasionalnya di permukaan Bulan. Modul proporsi utama bahkan dialihfungsikan untuk mengamati bumi dari orbit tinggi setelah tugas utamanya selesai.
Kerjasama internasional turut memperlancar jalannya misi melalui dukungan jaringan pelacakan dari Badan Antariksa Eropa dan NASA. Kolaborasi global ini membuktikan bahwa penjelajahan ruang angkasa modern sangat bergantung pada sinergi antarlembaga riset dunia.