Bintang siaran populer Jonathan Yiombi mendadak berada di pusaran kecaman keras dan pelecehan daring setelah tersingkirnya tim nasional Korea Selatan dari kompetisi 2026 FIFA World Cup. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam mengingat sang selebriti sama sekali tidak memiliki hubungan dengan dunia sepak bola.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan pertandingan pada tanggal 28 Juni, DR Congo berhasil mengalahkan Uzbekistan dalam babak penyisihan grup 2026 FIFA World Cup. Menurut perhitungan poin, hasil pertandingan tersebut secara resmi menyingkirkan Korea Selatan dari turnamen. Ini menjadi momen pertama sejak tahun 2018 di mana tim berjuluk Taeguk Warriors tersebut gagal melangkah keluar dari fase grup.
Dari pantauan redaksi, kegagalan menyakitkan tim Korea Selatan memicu kemarahan publik di dalam negeri, di mana para pemain dan jajaran pelatih menghadapi kritik yang sangat tajam. Namun, situasi menjadi tidak terkendali ketika sejumlah oknum penggemar sepak bola meluapkan kemarahan mereka kepada Jonathan Yiombi hanya karena latar belakang identitasnya yang berasal dari Kongo.
Berdasarkan catatan riwayat hidupnya, penghibur populer ini lahir di Democratic Republic of Congo sebelum akhirnya datang ke Korea Selatan sebagai pengungsi saat masih berusia delapan tahun. Menurut laporan aktivitas media sosialnya, akun pribadi Jonathan langsung diserbu oleh netizen yang marah. Mereka menuduhnya diam-diam mendukung Kongo, menuntut permintaan maaf, hingga menyalahkannya atas kekalahan tim Korea Selatan.
Meskipun demikian, dari pengamatan tim redaksi di kolom komentar, tidak sedikit pula netizen Korea yang muncul untuk membelanya. Banyak dari mereka yang mengecam balik aksi perundungan tersebut dan menyampaikan permohonan maaf atas kebencian tanpa dasar yang diterima oleh Jonathan.
Insiden ini kini telah memicu reaksi keras di tingkat internasional. Menurut gelombang protes di platform global, banyak netizen internasional yang mengutuk tindakan tersebut sebagai aksi yang "sangat menyedihkan" dan bermuatan rasisme. Kejadian ini juga memicu diskusi mendalam mengenai perilaku xenofobia yang terkadang muncul secara instan saat sebuah tim olahraga mengalami kegagalan besar.