Pertandingan final Champions League 2022 yang mempertemukan Real Madrid dan Liverpool di Stade de France harus diwarnai insiden memilukan. Berdasarkan laporan resmi, sepak mula laga pamungkas ini terpaksa ditunda selama 38 menit akibat kekacauan manajemen massa yang terjadi di luar stadion. Laga yang seharusnya dimulai pukul 21.00 waktu setempat akhirnya baru bisa digulirkan pada pukul 21.38 malam.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, ribuan pendukung yang telah menyemut di pinggiran kota Paris memicu kepayahan bagi petugas stadion dan kepolisian setempat dalam menyaring arus penonton. Pihak penyelenggara sempat berdalih bahwa penundaan disebabkan oleh "kedatangan suporter yang terlambat". Namun, klaim sepihak dari pengumuman layar stadion tersebut langsung memicu cemoohan keras dari para jurnalis dan suporter yang sudah berada di dalam tribun.
Menurut kesaksian sejumlah jurnalis di lokasi, kepolisian justru menggiring suporter ke dalam jalur sempit yang berbahaya serta menutup sebagian besar pintu akses tanpa alasan jelas. Situasi semakin mencekam ketika aparat mulai melepaskan gas air mata dan semprotan merica ke arah kerumunan penonton yang tertahan. Dari pantauan redaksi, beberapa jurnalis asing bahkan ikut terkena dampak gas air mata saat mencoba mendokumentasikan totalitas kekacauan tersebut.
Kekacauan manajemen ini bahkan memaksa keluarga dari bek Liverpool, Joel Matip, yang sedang hamil untuk mengungsi ke restoran terdekat demi keselamatan mereka. Menanggapi perlakuan buruk tersebut, Liverpool langsung merilis sikap resmi. "Kami sangat kecewa dengan masalah akses masuk stadion dan runtuhnya perimeter keamanan yang dihadapi para penggemar Liverpool malam ini," tulis pernyataan resmi klub raksasa Inggris itu.
Di sisi lain, UEFA berkilah melalui pernyataan resmi mereka bahwa penumpukan massa dipicu oleh ribuan suporter yang membeli tiket palsu sehingga tidak dapat memfungsikan mesin pemindai di pintu masuk. Kendati demikian, CEO Liverpool Billy Hogan secara tegas menolak pembenaran tersebut dan menuntut investigasi independen yang transparan dari UEFA guna mengusut tuntas kelalaian operasional yang membahayakan nyawa manusia ini.
Menurut pengamatan tim redaksi, salah satu faktor yang dinilai ikut andil dalam buruknya organisasi lapangan adalah pemindahan mendadak lokasi final dari Saint Petersburg, Rusia ke Saint-Denis, Prancis pada Februari lalu setelah pecahnya invasi ke Ukraine. Waktu persiapan yang sangat mepet ditengarai membuat panitia lokal tidak siap mengantisipasi gelombang kedatangan sekitar 50.000 suporter fanatik Liverpool yang memadati Paris.