Perusahaan otomotif terkemuka asal Amerika Serikat, Ford, terpaksa mengambil langkah mundur dalam penerapan teknologi otomatisasi penuh. Ford dilaporkan telah merekrut dan mempromosikan kembali ratusan insinyur berpengalaman mereka setelah menyadari bahwa teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak mampu memenuhi standar kualitas yang diharapkan perusahaan jika bekerja sendirian.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan dari Bloomberg via BBC, Ford tercatat telah mempekerjakan kembali sekitar 350 insinyur veteran dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya keras korporasi untuk mendongkrak kembali kualitas kendaraan mereka setelah sempat terlalu mengeksplorasi kemampuan mandiri dari AI.
Menurut Chief Operating Officer Ford, Kumar Galhotra, pihak manajemen mengakui bahwa perusahaan sempat terlalu bergantung pada sistem kualitas otomatis tersebut. Namun, hasil akhir di lapangan menunjukkan bahwa teknologi otomatisasi ini belum mampu memberikan performa nyata seperti yang telah diproyeksikan oleh perusahaan sebelumnya.
Kondisi ini dipertegas oleh pernyataan Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon. "Kecerdasan buatan adalah alat yang sangat fantastis, tetapi kemampuannya hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya," ujar Poon, yang juga menambahkan bahwa Ford sempat keliru menganggap bahwa memasukkan cetak biru desain ke dalam AI sudah cukup untuk memproduksi kendaraan berkualitas tinggi.
Dari pantauan redaksi, banyak dari insinyur paling berpengalaman di Ford sebenarnya telah meninggalkan perusahaan sebelum sempat mewariskan pengetahuan berharga mereka selama puluhan tahun kepada staf muda, atau bahkan sebelum data tersebut diintegrasikan ke dalam sistem AI pendukung kontrol kualitas.
Para insinyur senior yang dipekerjakan kembali ini kini dijuluki sebagai kelompok "gray beard" di lingkungan internal perusahaan. Menurut pengamatan tim redaksi, peran mereka sangat krusial dalam membimbing karyawan muda, memimpin peninjauan kualitas, serta membantu menyempurnakan sistem AI dengan menyuntikkan basis data pengetahuan teknik yang jauh lebih matang.
Fenomena kejenuhan terhadap AI ini nyatanya tidak hanya dialami oleh Ford saja. Berdasarkan catatan industri, beberapa raksasa teknologi dan hiburan global juga mulai mengerem ambisi AI mereka, termasuk induk perusahaan Rockstar Games, Take-Two, yang sempat memutus hubungan kerja Head of AI mereka beberapa waktu lalu.